ARAFAH

1

ARAFAH atau Arafat adalah nama sebuah padang pasir yang tandus dan mengerikan, dikelilingi oleh bukit batu tanpa air dan tanpa kehidupan. Sejauh mata memandang, yang tampak hanyalah kekeringan dan kengerian yang tak berujung. Tidak heran bila padang tandus ini bukan merupakan jalan yang umum dilalui oleh kafilah, karena tidak ada satu pun wadi (tempat berair) di sana.

Dahulu, Padang Arafah sering digunakan sebagai tempat pembuangan para pejuang Islam oleh kaum Jahiliah yang selalu mengejar, menangkapi, dan bahkan menyiksa mereka. Pada umumnya, mereka yang dibuang dan diasingkan ke tempat itu jarang yang dapat kembali hidup-hidup, karena di Padang Arafah memang tidak ada kehidupan.

Meskipun demikian, oleh para pejuang Islam yang gigih, Padang Arafah justru sering juga digunakan sebagai tempat untuk bersembunyi dari kejaran para Jahiliah serta musuh-musuh Islam saat itu. Karena oleh pihak musuh, mereka yang memasuki daerah tersebut dianggap sama saja dengan bunuh diri secara suka rela.

Padang Arafah terletak di sebelah timur kota Mekah, berjarak hanya 25 km. Betapapun, Padang Arafah tetap merupakan tempat yang setahun sekali dituju dan didatangi oleh umat Islam yang akan melaksanakan salah satu syariat di dalam ibadah haji, yaitu wukuf. Selama 1-2 hari setiap tahun, berjuta-juta umat Islam mendatangi tempat ini untuk wukuf yang menjadi salah satu rukun ibadah haji, yaitu pada 9-10 Zulhijah.

Sebelum 1970-an, bangunan tenda yang dipergunakan oleh para jamaah untuk berteduh ketika wukuf terdapat di tengah lapangan gurun pasir yang kering, langsung di bawah naungan langit, sehingga sangat terasa betapa panas dan gerah berada di dalam tenda. Panas yang datang dari pancaran sinar matahari serta dari pasir gurun, terasa sangat menyengat dan menyakitkan. Hanya di malam hari, ketika matahari tenggelam dan angin bertiup semilir, rasa panas berkurang.

Berada pada ketinggian 750 kaki di atas permukaan laut, Arafah adalah suatu padang pasir yang gersang tanpa tumbuhan selama berabad-abad. Di tengah-tengah padang pasir itu terlihat bukit-bukit kecil yang dinamakan “Jabal Rahmah”. Di sini, menurut riwayat, Adam dan Hawa bertemu kembali setelah terpisah jauh sejak mereka berdua terusir dari surga.

Sekarang, Padang Arafah sudah berubah wajah. Kekeringan dan kengerian yang diakibatkan oleh gurun tandus dan gersang tanpa air mulai sirna, digantikan oleh kehijauan yang disebabkan oleh pohon pelindung dan pohon hias, terutama pohon nimba yang konon didatangkan khusus dari Indonesia.

Dari puncak Jabal Ramah, sejauh-jauh mata memandang, yang tampak sekarang adalah hamparan hijau yang penuh kesegaran dan kehidupan. Siapa pun tidak akan percaya bahwa kawasan ini, dahulunya selama ribuan tahun, merupakan padang tandus yang sangat mengerikan.* Abu Ainun-kisuta.com

Iklan

Keutamaan Ibadah Haji

https://i1.wp.com/static.panoramio.com/photos/original/12435845.jpg

Sudah kita ketahui bersama bahwa haji adalah ibadah yang amat mulia. Ibadah tersebut adalah bagian dari rukun Islam bagi orang yang mampu menunaikannya. Keutamaan haji banyak disebutkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Berikut beberapa di antaranya:

Pertama: Haji merupakan amalan yang paling afdhol.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

سُئِلَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ « إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « جِهَادٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « حَجٌّ مَبْرُورٌ »

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Amalan apa yang paling afdhol?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ada yang bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Ada yang bertanya kembali, “Kemudian apa lagi?” “Haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 1519)

Kedua: Jika ibadah haji tidak bercampur dengan dosa (syirik dan maksiat), maka balasannya adalah surga

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349). An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Yang dimaksud, ‘tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga’, bahwasanya haji mabrur tidak cukup jika pelakunya dihapuskan sebagian kesalahannya. Bahkan ia memang pantas untuk masuk surga.” (Syarh Shahih Muslim, 9/119)

Ketiga: Haji termasuk jihad fii sabilillah (jihad di jalan Allah)

Dari ‘Aisyah—ummul Mukminin—radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ ، أَفَلاَ نُجَاهِدُ قَالَ « لاَ ، لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ »

Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling afdhol. Apakah berarti kami harus berjihad?” “Tidak. Jihad yang paling utama adalah haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 1520)

Keempat: Haji akan menghapuskan kesalahaan dan dosa-dosa

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Siapa yang berhaji ke Ka’bah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari no. 1521).

Kelima: Haji akan menghilangkan kefakiran dan dosa

Dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR. An Nasai no. 2631, Tirmidzi no. 810, Ahmad 1/387. Kata Syaikh Al Albani hadits ini hasan shahih)

Keenam: Orang yang berhaji adalah tamu Allah

Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

الْغَازِى فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ

Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji serta berumroh adalah tamu-tamu Allah. Allah memanggil mereka, mereka pun memenuhi panggilan. Oleh karena itu, jika mereka meminta kepada Allah pasti akan Allah beri” (HR. Ibnu Majah no 2893. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Begitu luar biasa pahala dari berhaji. Semoga kita pun termasuk orang-orang yang dimudahkan oleh Allah untuk menjadi tamu-Nya di rumah-Nya. Semoga kita dapat mempersiapkan ibadah tersebut dengan kematangan, fisik yang kuat, dan rizki yang halal.

Semoga Allah mengaruniakan kita haji yang mabrur yang tidak ada balasan selain surga.

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.

Referensi: Ar Rofiq fii Rihlatil Hajj, Majalah Al Bayan, terbitan 1429 H